Anak Bisa Jadi Influencer Berkat Dongeng
Anak Bisa Jadi Influencer Berkat Dongeng
Judul : "Anak Bisa Jadi Influencer Berkat Dongeng"
Tanggal : 7 Februari 2022
Narasumber : Kurniawan Adi Santoso, Guru SDN Sidorejo, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur
Keragaman dongeng di Nusantara menguntungkan orang tua. Mereka dengan mudah bisa memilih dongeng untuk dijadikan metode mendidik anak. Berbagai penelitian sudah membuktikan metode dongeng mampu menularkan pengetahuan dan menanamkan nilai budi pekerti luhur secara efektif pada anak-anak
Dongeng di era media baru menjadi harapan baru dalam upaya pembentukan karakter anak. Kegiatan mendorong lewat media gawai bukan berarti mengalihkan tugas orang tua mendongeng ke gawai. Saat menyimak dongeng lewat gawai, dialog antata orang tua dan anak tentang nilai-nilai dalam dongeng digital tetap perlu dibangun.
Selain itu, keterlibatan orang tua dalam memilih dongeng pada aplikasi atau platform digital amatlah penting. Orang tua bisa memilih konten dongeng yang bermanfaat dan mendukung pertumbuhan kepribadian anak. Seperti dongeng yang memiliki pesan-pesan kemanusiaan, perdamaian, toleransi, kebhinekaan, dan sebagainya.
Orangtua juga memiliki tugas mengarahkan anak agar dapat mengaktualisasikan karakter positif yang bersumber dari dongeng. Meski belum bisa membaca, anak yang mendapat dongeng, baik secara lisan atau melalui media akan lebih terliterasi. Dan anak-anak yang terliterasi akan memiliki semangat rasa ingin tahu yang mendalam. Kemampuan seperti itulah yang diperlukan untuk mengembangkan karakter anak.
Digital parenting penting untuk diterapkan. Dan, dongeng bisa menjadi alternatif konten yang bisa diakses anak dalam rangka memenuhu need of achievment-nya sebagai digital native.
Dengan memberikan kesempatan pada anak untuk mengakses konten positif, harapannya anak terhindar dari kegiatan akses konten negatif, sekaligus bisa berperan sebagai influencer pemakaian internet sehat bagi teman sebayanya.
Industri kreatif pun harus makin peka menangkap kebutuhan anak sehingga dapat termotivasi untuk menciptakan dongeng digital yang inspiratif dan nirkonten tak layak untuk anak. Semoga, dongeng digital terus berkembang sehingga berkontribusi dalam pembentukan karakter positif pada anak.